Fahima Mengajak Mengenal Kelor

Ini adalah artikel yang ditulis oleh Fahima, seorang sarjana pertanian lulusan IPB Bogor. Fahima memproduksi serbuk dan daun kelor yang dikeringkan dan didistribusikan ke seluruh Nusantara. Pertemanan dengan Martani terkait kelor terjadi sejak kepindahannya ke tanah kelahirannya di Pare, Kediri tahun 2015.

Perjalanan saya bertemu dengan kelor ini sudah lama sekali, karena memang saya dari keluarga petani yang menanam berbagai macam tanaman yang tidak ditanam oleh kebanyakan petani  pada umumnya, yaitu seperti ganyong, garut, kunyit, jahe, kelor, katuk, kemangi, sawo, kenanga, sebagai pengisi halaman rumah buyut yang kosong. Di keluarga kami paling sering memasak sayur bening klentang (buah dari kelor) karena rasanya enak dan  menyegarkan jika disantap sepulang dari sawah.

Selanjutnya sewaktu saya masuk kuliah di Bogor, tetiba kangen dengan sayur bening klentang dan terpikir di lingkungan Sunda banyak makanan lokal yang tidak diketahui oleh saya, tapi orang Sunda tidak mengenal kelor sebagi tanaman sayur melainkan tanaman magic, jadi mereka takut mengkonsumsinya meski ada beberapa orang yang tanam kelor di halaman rumahnya.

Menjelang akhir kuliah, saya memilih penelitian tentang produksi sayuran indigenous (sayuran lokal asli daerah) sebagai bahan skripsi saya. Dari sini saya bingung memulai penelitian darimana? Maklum saya yang pendiam dan gampang minder sangat segan dengan dosen pembimbing saya untuk berkonsultasi, jadi agak lama memulai penelitian, selain itu saya ada terkendala di dana untuk menyiapkan bahan tanaman sayur yang akan diteliti.

Alhamdulillah tiba-tiba ada teman dari BEM memberikan informasi lewat sms gratisan, hehehe (2010 jaman belum muncul smartphone) dapat info tentang sosialisasi kompetisi dari perusahaan PT Sharp Elektronik Indonesia yaitu “Sharp Idea Award 2010” bertema Product Idea yang fungsional dan Environment Actvity, saya merasa tergiur sama hadiah yang ditawarkan dari sosialisasi tersebut. Ada syarat jika minimal masuk finalis kami akan mendapatkan insentif lumayan buat ukuran mahasiswa, jika sudah masuk finalis saya bisa memulai belanja bahan penelitian skripsi.

Saya memilih kategori Environment activity ide yang muncul dibenak saya memanfaatkan air banjir Jakarta untuk sumber air minum dengan cara apa? Sambil cari-cari referensi bacaan bahwa kalau negara Afrika yang minim dengan air minum, mereka memanfaatkan biji klentang untuk menjernihkan air. Di Indonesia sendiri tanaman kelor banyak, tapi banyak orang Indonesia yang belum tahu tentang manfaat tanaman-tanaman disekitarnya.

Kemudian saya mengajukan judul “Penanaman Pohon Kelor (Moringa oleifera) untuk Penghijauan di Kawasan Sungai Rawan Banjir dan Buahnya untuk Koagulan Filtrasi Air”.

Referensi yang saya dapat kebanyakan dari jurnal ilmiah asing daripada lokal yang memyebutkan bahwa tanaman kelor banyak mengandung vitamin mineral yang cukup banyak daripada sayuran-sayuran yang kita tanam pada umumnya. Dari situ saya tertarik ingin mengenal lebih dekat lagi dengan kelor.

Di beberapa pulau Indonesia dari yang tebanyak tanam kelor di Nusa Tenggara dan Jawa Timur. Namun masih kebanyakan orang mengenal kelor sebagai tanaman magic “menghalau santet atau melunturkan kekuatan supranatural”, sampai sekarang masih ada yang beranggapan seperti itu.

Secara ilmiahnya iya, kelor bisa bantu memenuhi gizi bagi yang mengkomsumsimya sehingga badan merasa sehat, segar dan bugar jadi kebal dari penyakit. Kalau di Jawa Timur terutama daerah Sidoarjo dan Pasuruan akan mudah menemuai di pasar tradisioanl yang menjual klentang muda untuk sayuran, awal mula yang saya ketahui polong mudanya yang bisa dikonsumsi tenyata bagian daun dan bunga kelor juga enak dikonsumsi sebagai sayur bening dan bersantan.

Tahun 2015 mulai banyak yang mengenal kelor sebagai tanaman sayur menyehatkan, dan mulai muncul permintaan sayuran tersebut. Padahal keluarga kami sendiri sewaktu penelitian kelor menyempatkan diri mengolah kelor menjadi powder dan dimasukkan kapsul dan konsumsi pribadi sejak 2012 dan bahkan saya dikirimi tepung kelor oleh ibu ke kosan (maklum masih anak kosan di Bogor). Kadang-kadang saya seduh serbuk kelor dan diminum, juga untuk membuat masker.

Sampai 2 tahun pun tepung kelornya masih ok warna hijaunya dan disimpan diteduh tidak kena sinar matahari dan lampu. September 2016 saya memulai mengenalkan kelor kembali dengan kemasan lebih kecil dan ekonomis untuk pelengkap nutrisi makanan ataupun sebagai minuman herbal.

Jika ingin membuat sendiri tepung kelor sendiri dirumah juga sangat mudah. Begini urutannya:

  • Caranya dengan panen daun yang warnanya masih hijau segar, kemudian cuci dengan air bersih dan diangin-anginkan sampai layu.
  • Selanjutnya urai daun diatas nampam dan kering anginkan atau dijemur dibawah sinar matahari dan sambil digetarkan dari tangkai daun agar rontok dengan sedirinya.
  • Kemudian jemur lagi sampi krisik (alias seperti krupuk yang masih krispi) lalu di giling atau blender dan saring sampai halus.
  • Selanjutnya simpan tepung dalam wadah plastik atau toples kering dan tutup rapat, dan bisa digunakan sewaktu-waktu jika ingin membuat minuman atau adonan kue-kue yang dicampuri dengan kelor.

Jika belum ada waktu membuatnya bisa pesan di Martani. Kontak Yusup 0813.1780.5953 untuk detil info dan pemesanan produk Martani.

Bubur Ayam Kelor dan Mie Mokaf

Sumber karbohidrat bisa diolah dari nasi dan mie.
Bubur kelor top. Biasanya bubur berwarna putih. Kali ini nikmati bubur berwarna hijau. Campuran serbuk kelor menjadikan semangkuk bubur anda menjadi lebih sehat.

Mie mokaf terbuat dari campuran tepung mokaf (60%) dan tepung terigu (40%).

Resep bubur kelor.
  • Ambil tiga sendok nasi. Tambahkan satu gelas air. Blender haluskan.
  • Panaskan dua gelas air sampai mendidih. Masukkan nasi yg sudah diblender.
  • Tambahkan satu sendok nasi putih ke dalam panci.
  • Tambahkan dua sendok serbuk kelor. Aduk.
  • Tambahkan garam sesuai selera.
  • Angkat, hidangkan dengan suiran ayam, telur, goreng bawang dan bawang daun.

Kontak Yusup 0813.1780.5953 untuk mendapatkan detil info dan produk Martani Beras Sehat (beras putih menthik susu, serbuk kelor, mie mokaf less gluten).