Tempe Kedelai Lokal

Tercatat 80% impor kedelai ( 1,25 juta ton impor tahun 2012), diserap oleh pabrik tahu & tempe. Produksi kedelai lokal dalam negeri sebanyak 779.800 ton kedelai (30% dari kebutuhan nasional sebesar 2,4 juta ton).

Kedelai lokal lebih baik dibanding kedelai impor, semua kita mengakui itu, tetapi tempe & tahu yg ada di pasaran sebagian besar menggunakan kedelai impor. Harga kedelai impor lebih murah dibanding kedelai lokal. Tetapi dalam jangka panjang mengkonsumsi benih transgenik kedelai impor membahayakan kesehatan. Kedelai impor disinyalir sudah kehilangan gizi karena hilang saat proses pengiriman yg butuh waktu berbulan-bulan.

Diluar hiruk-pikuk diskusi kedelai impor vs kedelai lokal, jika ada tetangga si mbah di pasar, yg memproduksi tempe kedelai lokal, lebih baik pilih itu.

Berikut informasi seputaran kedelai lokal yang disarikan dari berbagai referensi.

  • Kandungan gizi kedelai lokal lebih unggul ketimbang impor;
  • Kedelai lokal unggul dari impor dalam hal bahan baku pembuatan tahu. Rasa tahu lebih lezat, rendemennya pun lebih tingi, dan resiko terhadap kesehatan cukup rendah karena bukan benih transgenik.
Kekurangan kedelai lokal:
  • Ukuran kecil atau tidak seragam dan kurang bersih, kulit ari kacang sulit terkelupas saat proses pencucian kedelai,
  • Proses peragiannya pun lebih lama.
  • Proses pengukusan lebih lama empuknya, bahkan bisa kurang empuk.

Ini semua terkalahkan dengan rasa gurihnya setiap gigitan tempe kedelai lokal.

Budidaya kedelai lokal:

  • Kedelai lokal memeliki umur tanaman lebih singkat 2,5 – 3 bulan daripada impor yang mencapai 5 – 6 bulan.
  • Benih kedelai lokal pun lebih alami dan non-transgenik.
  • Varietes lokal umumnya masih berproduksi di bawah 2 ton per hektare, kedelai impor bisa mencapai 3 ton per hektarnya.
  • Biji kedelai impor pun umumnya berukuran lebih besar.

Penelitian pemulia kedelai dilakukan di Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan). Lembaga lain yg berwenang adalah Direktur Aneka Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian di Kementerian Pertanian,

Perkembangan kedelai lokal tidak didukung oleh industri perbenihan yang kuat, mekanisasi usaha tani berskala besar serta efisien, dan juga lahan khusus kedelai yang luas.

Impor terbesar kedelai Indonesia berasal dari Amerika Serikat ( 1,8 juta ton), Malaysia (120.074 ton), Argentina (73.037 ton), Uruguay (16.824 ton), dan Brazil (13.550 ton).

Kebutuhan kedelai 2012 sebanyak 2,4 juta ton terdistribusi ke:
  • perajin tahu tempe  83,7 persen (1,8 juta ton),
  • kecap dan tauco 14,7 persen ( 325.220 ton),
  • perbenihan 1,2 persen (25.843 ton), dan
  • pakan ternak 0,4 persen (8.319 ton).

Kembali ke konsumen untuk memilih tempe kedelai lokal bukan impor untuk konsumsi hariannya. Sehat untuk tubuh dan lingkungan, dan membantu menyerap panenan petani lokal.

Martani memproduksi tempe kedelai lokal, saat ada pemesanan.  Kecap kedelai lokal produksi UKM Kulonprogo juga tersedia. Kontak Yusup 0813.1780.5953 untuk detil info dan pemesanan produk Martani Pangan Sehat.

Kedelai Martani di Rumah Tempe Indonesia

image
Kedelai Lokal di Rumah Tempe Indonesia.

Martani mengirim kedelai lokal ke Rumah Tempe Indonesia di Bogor. Jenis Wilis dan Anjasmoro adalah varietas kedelai lokal yang tentunya  lebih unggul dibanding kedelai impor. Rasa tempe kedelai lokal lebih gurih ungkap beberapa konsumen. Kedelai yang baru dipanen sebulan lalu jelas lebih segar dibanding jenis kedelai impor yg dipanen satu tahun lalu.

Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-Umbian (Balitkabi) Malang sejak tahun 1998 telah melepas sebanyak 10 varietas kedelai unggulan. Yaitu: Burangrang, Anjasmoro, Argomulyo, Panderman, Argopuro, Gumitir, Baluran, Bromo, Merubetiri, dan Mahameru.

“Kedelai varietas unggul ini memiliki biji besar dan kandungan protein mencapai 42 persen,” kutipan dari seorang  plant breeder Balitkabi, Astanto Kasno di kantornya, Jl Raya Kendalpayak, Malang, Rabu (16/1/2008). Kutipan sebuah media.

Kontak Yusup 0813.1780.5953 untuk detil info dan pemesanan produk Martani.