Pasar Sagan Januari 2017

Mengawali awal tahun 2017 dengan mengikuti pasar komunitas, Pasar Sagan. Yeay bersemangat bertemu konsumen langsung dan sesama penjual sehat.
Sebuah papan tulis dan kapur aneka warna tersedia di sebelah meja yg sudah ditata lengikuti pinggiran ruangan Cafe LIP – Loka loka. Tenant diminta menuliskan barang dagangan dan nama tokonya di papan tulis. Membantu pengunjung mengetahui produk yg dijual.

Beruntung Pasar Sagan kali ini, kami kedatangan Fahima dari Pare, Kediri. Dia adalah artisan pembuat serbuk kelor. Bersekolah di IPB Bogor, mengamalkan ilmu pertaniannya dengan berkebun dan mengolah hasil pertanian menjadi produk yg bernilai jual tinggi.

Aneka Benih merk dagangnya Fahima untuk produk-produk input pertanian. Bukan hanya menyediakan aneka benih juga seperangkat alat tanam edukasi. Baik untuk anak-anak dan pemula yg sedang belajar bagaimana cara berkebun. Bunga telang dan tegetes menjadi favorit pot kembang yg laku di pasaran.

Moci kelor adalah jajanan pasar yg kami kembangkan dari aneka tepung lokal dan olahan serbuk kelor. Publik diajak untuk mengenal kelor bukan hanya sebatas dibuat sayur bening, tetapi juga jajanan pasar lain seperti moci, wangko, bakpia, onggol-onggol, bubur jenang kelor, bakso ayam kelor, bakso vegan tempe kelor.
Mengajak konsumen cerdas. Menantang diri menjadi produsen sehat yg mengolah aneka produk pertanian Nusantara.

 

Pasar Sagan Februari 2017

Pasar Sagan kembali digelar Bulan Februari 2017. Sarah pemilik cafe Lokaloka sang penggagas aktivitas pasar sehat. Bulan ini juga diiringi dengan launching web Pasar Sagan,  https://pasarsagan.wordpress.com/.

”Intinya untuk mengenal produsen lebih dekat dan perlahan-lahan menggunakan produk lokal. Jangan sampai penjual asal mencuplik kata organik untuk marketing saja, semua harus sesuai porsinya,” ujar Sarah. (http://jogja.tribunnews.com/2016/09/28/lokaloka-adakan-pasar-sagan)

Membawa pesan agar publik mengenal tempe yg dibuat dari kedelai lokal. Ada apa dengan kedelai lokal vs kedelai impor?
n
Purnomo dan Dede mahasiswa Universitas Mercu Buana.

Pasar Sagan 2016

Martani ikut aktif berjualan di Pasar Sagan. Ini adalah aktivitas komunitas beberapa vendor produk makanan dan kerajinan di Jogja. Syaratnya sederhana saja saat mau ikutan berjualan di pasar ini, produk dagangan adalah barang yg diproduksi sendiri tutur Sarah sang koordinator pasar. Ini akan memudahkan sang penjual menjelaskan kepada pembeli tentang asal-usul dan kegunaan barang itu.

Pada awal Pasar Sagan kami hadir dengan pecel PSSM Martani. Sekeranjang sayuran rebusan dan bumbu kacang kami jual dengan harga 7 ribu per porsi. Nasi merah, hitam atau tiwul, tergantung musim ketersediaan bahan dasar yg ada. Teh biru bunga telang juga kami sediakan seharga 3 ribu rupiah per gelas.

Beras Sehat Martani di SunMor UGM Jogja

Sunmor adalah istilah untuk Sunday Morning, pagelaran aneka jualan di pelataran parkir UGM Jogjakarta. Pasar tiban ini terjadi setiap hari Minggu pagi sampai pkl 12. Dibuka paska krismon 1997. Cara kreatif orang Jogyes.

Orang datang berbondong-bondong, parkiran motor padat, mobil jelas padat merayap selisipan antara orang lalu-lalang dan motor yg berjalan melawan arus. Ah Jogja banget dengan motornya. Anak-anak muda datang untuk berjualan, membeli jajanan, jalan pagi, cari ide, ketemu orang, sarapan lesehan.

Terlihat juga beberapa ibu dan orang tua yg sedang mengantar anak belanja beli daster, tas, melepas mereka kos di Jogja. Jajanan mata gajah merajalela, mie dicampur telur yg digoreng membentuk bola pingpong. Daster batik dan sandal kulit-plastik banyak dijual. Kerudung dan syal juga ramai didatangi kaum hawa.

Mbak Sulis dan Mbak Sofi selalu bersemangat menyambut Minggu pagi.  Ini adalah cerita dari 20 September 2015.

Beras Sehat Martani jenis menthik susu, beras hitam cempo dan beras merah mawar menjadi andalan. Yoghurt botol FaBio dan bentuk frozen paling banyak laku. Es jeruk daun mint dijual 3rb/gelas. Sunmor kali ini, ada telur asin organic buatan Mbak Dewi Karangwungu, Klaten.

Dan Martani terus berusaha mendekatkan diri dengan pembeli konsumen berbagai lapisan. Karena pangan sehat adalah milik semua.