Antropolog di Limasan Martani

14/12/16. Bapak John Mc Carthy seorang antropolog Associate Professor, Crawford School of Public Policy, ANU College of Asia and the Pacific datang bersama beberapa kolega antropolog lainnya yg sedang mengadakan pertemuan di Jogjakarta. Empat orang dosen dari beberapa universitas di Indonesia, dua anthropology berkebangsaan Australia (Lisa, Andrew) dan satu orang berkebangsaan Belanda (Gerben).

Mbak Nulwita ternyata kawan satu angkatan kami saat di Bogor. Belum sempat berkenalan waktu sekolah beberapa tahun lalu, malah baru bertemu sekarang.

Group Picture Pak John, Mbak Nulwita dkk Antropolog.

Percakapan selama makan malam diantara sesama kawan lama dan baru. Yusup adalah salah-seorang kolega Pak John, sesama peneliti CIFOR yg pernah melakukan riset di Kalimantan Barat pada tahun 90an. Kunjungan ke Boutique Restaurant Limasan Martani atas rekomendasi Mbak Indri, kawan lama kami di Bandung, yg saat ini sedang menyelesaikan PhD di ANU – muridnya Pak John.

Pendi Si Anak Kecil Menjelaskan Batik Tulis Bayat Hasil Karyanya.
Terimakasih sudah menghabiskan waktu bersama menikmati beras merah Martani dan aneka sayuran pecel dari petani lokal sehat.
Info lebih jauh tentang Dr John F McCarthy:

 

Belajar dari Film Food Inc.

Tulisan ini dibagikan saat acara diskusi Konspirasi Dibalik Tudung Saji yg diadakan oleh Food For Nation di Fakultas Teknologi Pertanian, Universitas Gadjah Mada. Dalam rangka memperingati Hari Pangan Dunia, Minggu, 16 Oktober 2016.

Bisa hubungi Yusup langsung di 0813.1780.5953 untuk diskusi lanjutan. Atau mampir ke warung kopi kami di daerah Tulung, Kalasan dan di Kebun Martani Labasan di Pakem, Kaliurang.

After this event, you’ll never look at dinner the same way again.

Line Food For Nation: @40wwc8675v

Belajar dari Film Food Inc.
(Yusup Martani/081317805953)
1.     Pertama
·       Hal penting yang saya tangkap dari film Food Inc adalah beda antara “bertani (farming) dengan fabrikasi tani (factoring)”….beda antara “olah rasa/olah pangan dengan industri pangan”.
·       Kalo anda tahu bagaimana pangan diolah dan disajikan, kemungkinan besar tidak mampu/kolu/mentolo untuk memakannya
·       Cepat, cepat, cepat…. Tumbuh, tumbuh tumbuh….. banyak, banyak, banyak…. adalah bagian dari factoring
2.     Kedua
·       Pernahkah kita bertanya dari mana, siapa yang membuat, bagaimana cara membuat dan terbuat dari apa makanan kita?
·       Penjajahan yang paling alami dan mematikan adalah melumpuhkan kesadaran kita atas berbagai hal, termasuk pangan.
·       Serangan utama tertuju pada rasa takut, malas dan ketidaksabaran, dan bodoh. Pada tahap lanjut kita akan kehilangan jati diri, tidak kreatif (bodoh) ingin meniru dan menjadi orang lain: kebarat-baratan, kearab-araban, ketimur-timuran (China, Jepang, Korea) dll.
·       Fenomena keberhasilan “mereka” menjajah “kita” antara lain: mie instan, bahan pangan basis terigu, sachetan, bumbu instan, buger dan kebab mania, capucino dan ekspresso dll
·       Dengan berbagai upaya, semua industriawan pangan berupaya untuk menjadikan semua orang sama dan seragam dalam hal rasa dan konsep mengenai kecukupan dan kesehatan pangan
·       Rasa takut kekurangan cenderung kita akan memproduksi dan mengolah pangan berlebihan (apakah pernah ada yang membuat skripsi tentang food waste?).
·       Kearah mana Mahasiswa Tehnologi Pertanian/Pangan belajar? Apakah juga akan menjadi bagian dari Food Inc?
3.     Ketiga
·       Jika kita amati dengan cermat situasi pertanian pangan, situasi apa sebenarnya yang perlu kita khawatirkan? Cara berbudidaya yang seragam.
·       Apakah budidaya organik dapat menjadi solusi? Ya, jika cara bertani dilakukan dengan farming; tidak, jika organik juga sudah menjadi factoring.
·       Banyak pemahaman mengenai budidaya organik. Martani lebih memilih cara yang dikenal dengan LEISA (Low Ekternal Input Sustainable Agriculture). LEISA akan memberi peluang lebih besar kepada petani untuk mandiri. Contoh: meskipun organik, pupuk yang diproduksi masal oleh pabrikan akan dihindari.
·       Jenis yang ditanam adalah apa yang cocok dan dikuasai oleh petani
·       Konsumsi sendiri dulu, baru sisanya dipasarkan. Pasarkan mulai dari yang dekat.
·       Organik jika sudah terbawa (cepat, tumbuh, banyak)…. juga akan jadi factoring
·       Setiap individu unik dalam hal fisik, budaya dan kondisi alam sekitar tempat hidupnya. Ada orang yang cukup makan dua kali sehari ada yang tidak, ada yang kuat makan cabe ada yang sakit perut, ada yang hidup di daerah pantai ada yang di pegunungan.
·       Belajar dari Muhammad SAW: makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang
·       Belajar dari orang Jawa: semua dapat diserap tetapi tidak pernah menjadi apa yang diserap (sinkretisme), saya tidak menolak burger, spagetti (barat), mau juga makan kebab (timur), bisa juga makan mie (china), ataupun nasi (india). Tapi kalo ada pilihan tetap akan memilih tiwul dan tempe.
·       Belajar dari ilmu sosial ekonomi: populisme (Chayanov) dan anarkisme (menghargai keunikan dan keberagaman, memilih untuk tidak besar dengan alasan efisien dan produktif). Saya akan memilih Yoghurt, keju dll bikinan temen sendiri ketimbang bikinan pabrik.
·       Saya akan memilih makan dengan cara mengolah sendiri ketimbang beli makanan mateng, jika harus beli saya akan memilih yang berbahan lokal bukan impor (karena pasti lebih segar dan sehat), saya akan memilih pangan yang bukan kemasan, karena ada keunikan rasa, sementara kalo kemasan dapat dipastikan rasanya sama.
·       Itulah organik dalam pangan dan bertani.
4.     Keempat
·       Martani dibentuk pertama kali pada tanggal 23 Maret 2014. Pada awalnya Martani merupakan bagian dari program  KRKP (Koalisi Rakyat untuk Kedaulatan Pangan), sebuah koalisi yang beranggotakan LSM pendamping petani di Bogor. Mandat utama Martani adalah untuk: 1) menjalankan misi KRKP mewujudkan “Perdagangan yang Adil”, “pertanian berkelanjutan”, dan “konsumsi pangan lokal sehat”; dan 2) menjadi media komunikasi antar anggota kelompok petani produsen dan konsumen melalui perdagangan pangan lokal sehat.
·       Usaha pokok Martani adalah perdagangan pangan sehat hasil produksi petani dampingan anggota KRKP, terutama beras dan palawija. Pada tanggal 17 Juli 2015, Martani memisahkan diri dari KRKP menjadi sebuah entitas bisnis mandiri dan berdomisili di Cepoko, Bugisan, Prambanan, Klaten. Perpindahan ke Prambanan dimaksudkan untuk mendekatkan diri kepada kelompok petani produsen yang sebagian besar berada di wilayah Kabupaten Magelang, Boyolali, Klaten, Sleman, Kulonprogo, Gunung Kidul dan Bantul.
·       Martani merupakan bahasa Jawa, sebagai laku (predikat) mempunyai arti “menghidupi” dan sebagai subyek/obyek dimaknai sebagai “sumber penghidupan”. Martani dapat dipandang sebagai penggabungan dua suku kata: Mart dan Tani, Mart dalam Bahasa Inggris berarti pasar, dan Tani berarti petani. Sehingga Martani dapat dimaknai sebagai pasarnya petani, “tempat” dimana petani dapat memasarkan produknya.
·       Misi Martani sebagai entitas bisnis adalah menyediakan pangan lokal sehat secara ajeg dan mendapatkan keuntungan. Sehat dalam hal ini adalah tanpa pestisida, pengawet, pewarna, perasa, pengenyal (5P) buatan; lokal: dapat ditelusuri asal dan cara produksinya, serta minimal kandungan impor dan produksi pabrikan besar; dan ajeg: produksi, penyediaan dan pelayanan lancar secara kuantitas dan kualitas. Prinsip berdagang yang dipegang Martani adlah jujur, saling percaya, dan saling menguntungkan. Sehingga diharapkan dapat visi Martani: olah rasa mbangun jiwa (secara bersama mengalami dan memaknai untuk saling menghidupi).
5.     Kelima

 

 

 

Organik Farming, Mart-Tani, dan angkringan dapat dijadikan instrument gerilya pangan untuk food inc. (diskusi selanjutnya).

Warung Pecel Prambanan Tempat Belajar Bersama

Exchange Knowledge begitu istilah asingnya. Pertukaran pengetahuan diantara berbagai pihak idealnya terjadi organik sehingga kualitas produk terus terjaga. Petani dan pengrajin makanan adalah kelompok produsen yg membutuhkan asupan pengetahuan dan sharing pengalaman dari sesamanya dan juga feedback dari pihak konsumen.

Percakapan tentang pembuatan telur asin yg baik, tanpa bahan pengawet dan alami misalnya secara rutin dilakukan Mbak Dewi dan suaminya di Warung Pecel PSSM Prambanan. Sambil mengantar pesanan telur asin organik (bebek pawon), kami bertukar pikiran untuk terus memperbaiki rasa dan kualitas produk. Bu Mul yg dikenal pengalamannya mengolah aneka kuliner, memberi masukan soal tingkat rasa asin telur asin. Teknik pembuatan telur asin juga sempat dibicarakan.

Pecel memang cocok dimakan dengan lauk telur asin. Penjualan telur asin organik semakin meningkat sejalan dengan semakin dikenalnya keberadaan Warung Pecel Martani Prambanan.

Daftar Harga Ayam O’Chicken

Selain pecel, tersedia paketan nasi ayam o’chicken.

Tulisan ini dibuat agar para pelanggan Warung Pecel PSSM Prambanan memahami perkembangan pembelajaran para supliernya. Dipersilakan jika ingin memberikan masukan melalui email martanindonesia@gmail.com atau twitter @martaniberas.