Martani: Olah Rasa Mbangun Jiwa

Martani merupakan entitas bisnis pangan sehat yang bertujuan untuk berkontribusi pada proses membangun jiwa bangsa melalui olah rasa pangan. Martani dibentuk pada tanggal 23 Maret 2014, di Bogor dan sekarang berdomisili di Taman Martani, Kalasan, Sleman. Usaha pokok Martani adalah perdagangan pangan sehat hasil produksi petani di sekitar DIY-Jateng: beras, palawija, umbi, herbal, serta olahan pangan.

Martani merupakan bahasa Jawa, sebagai laku (predikat) mempunyai arti “menghidupi” dan sebagai subyek/obyek dimaknai sebagai “sumber penghidupan”. Martani dapat dipandang sebagai penggabungan dua suku kata: Mart dan Tani, Mart dalam Bahasa Inggris berarti pasar, dan Tani berarti petani. Sehingga Martani dapat dimaknai sebagai pasarnya petani, “tempat” dimana petani dapat memasarkan produknya.

Misi Martani sebagai entitas bisnis adalah menyediakan pangan lokal sehat secara ajeg dan mendapatkan keuntungan. Sehat dalam hal ini adalah tanpa pestisida, pengawet, pewarna, perasa, pengenyal (5P) buatan; lokal: dapat ditelusuri asal dan cara produksinya, serta minimal kandungan impor dan produksi pabrikan besar; dan ajeg: produksi, penyediaan dan pelayanan lancar secara kuantitas dan kualitas.

Prinsip kerja Martani adalah jujur, saling percaya, dan saling menguntungkan. Olah rasa mbangun jiwa menjadi visi pengarah Martani, secara bersama mengalami dan memaknai untuk saling menghidupi.

Martani bekerja bersama berbagai pihak yang sejalan dengan peran masing-masing.

  • Rumah Tepung Lokal (RTL): aliansi kelompok mahasiswa UMBY (Universitas Mercu Buana Yogyakarta), komunitas pengrajin tepung, dan komunitas pengrajin pangan berbasis tepung. (http://rumahtepunglokal.blogspot.co.id)
  • Martani bersama RTL melakukan kajian dan juga edukasi publik tentang tepung lokal, serta mengembangkan resep-resep panganan bukan terigu. Saat ini sudah menemukan ramuan awal tepung lokal (tepung premix) untuk pembuatan mie, roti, dan gorengan. (https://www.instagram.com/rumahtepunglokal)
  • Tanindi: kelompok usaha yang dimotori oleh sarjana TPHP UGM (Teknologi Pengolahan Hasil Pangan, Universitas Gadjah Mada). Martani bersama Tanindi mengembangkan perdagangan hasil tani, tepung lokal, dan olahan kembang telang. (https://shopee.co.id/tanindi.id) (http://bungatelangmartaniprambanan.blogspot.co.id)
  • Tani Kepyar: kelompok usaha yang dimotori oleh sarjana TIN – FATETA IPB (Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian, Institut Pertanian Bogor). Martani bersama Tani Kepyar dan KWT (Kelompok Wanita Tani) di Pakem mengembangkan usaha olahan jajanan tradisional bebas terigu dan mie minim terigu. (https://www.instagram.com/ardianpulihk)
  • Snack Fresh: kelompok usaha yang dimotori oleh sarjana perempuan TPHP UGM. Martani bersama Snack Fresh mengembangkan usaha roti dan kue kering bebas terigu. (https://www.instagram.com/utiilatifah)

Pelatihan Pengolahan Tepung Lokal Produk Pertanian Kulonprogo

Pelatihan Pembuatan Tepung beririsan dengan kegiatan Pengenalan BPJS Ketenagakerjaan (dulunya Jamsostek). Among Rasa Menoreh (ARM) menjadi host kegiatan ini, sedangkah pelatihan dilaksanakan oleh Fahmi dan Najib dari Food for Nation (FFN). Pelatihan tahap awal dilaksanakan di Desa Banjararum dan Banjarasri, Kalibawang, Kulonprogo, Minggu 16 Juli 17.

ARM melihat banyaknya produk petani lokal yg berlimbah dan dihargai murah, terutama saat musim panen. Pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi akan memberi nilai ekonomi yg bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. ARM akan membantu memasarkan produk masyarakat yg diproduksi dengan cara baik dan bahan dasar produk pertanian setempat yg berlimpah.

Lokasi Pertemuan #1: Rumah Bu Erna, Banjararum.

Acara dimulai pukul 10.10. Peserta yg hadir 15 orang ibu-ibu dan remaja.

Dimulai dengan pembukaan oleh Mbak Erna. Yusup, menjelaskan tentang tujuan kegiatan dan perkenalan setiap peserta yg hadir. Fahmi dan Najib dari FFN melanjutkan dengan presentasi cara pembuatan aneka tepung dari umbi lokal dan diskusi seputaran pangan sehat dan pengolahannya.

Diskusi bergulir bebas seputaran harga umbi dan tepung lokal, potensi beberapa umbi yg ternyata punya nilai ekonomi tinggi seperti porang (atau iles-iles) yg saat ini belum diolah. Ibu-ibu bersemangat setelah ditunjukkan harga sebuah umbi suweg di Tokopedia, 350 ribu. ‘Saya jual 100 ribu, ibu mau beli?’, komentar seorang peserta.

Seorang ibu yg sering membantu kakaknya membuat slondok, berbagi pengalaman soal aneka rasa slondok. Penambahan bawang menjadikan slondok produksinya berbeda. Selalu habis tidak ada stok karena memenuhi pesanan orang yg tinggal di Jakarta, tambahnya.

Seorang ibu pembuat jamu kunyit tertarik dengan ide mengemas aneka jamu dalam bentuk kering, instan siap seduh. ‘Teh celup kunyit jahe, wah saya mau coba itu’.

Beras sehat untuk semua.

Mas Mika diminta ibu-ibu untuk memperkenalkan diri lebih jauh terkait BPJS Ketenagakerjaan. Peserta antusias mendengarkan, beberapa bahkan bertanya bagaimana cara mendaftarkan diri.

Nasi biru bunga telang semur jengkol.

Mencicipi nasi kucing biru bunga telang dengan lauk sayur gori buatan Bu Solih dari Warung Martani Tulung Kalasan. Serabi hijau serbuk katuk dan serbuk kelor juga dihidangkan. Aneka hidangan berbahan dasar lokal ini diharapkan menjadi inspirasi peserta tentang hasil akhir aneka tepung yg nantinya akan mereka produksi.

Pertemuan berikutnya rencananya akan dilaksanakan tgl 24 Juli pukul 3 sore di rumah Mbak Erna. Praktek pembuatan tepung suweg dan teh celup jamu kunyit. Peserta adalah kelompok yg ini ditambah 20 orang dari PKH – Program Keluarga Harapan Banjararum (menunggu konfirmasi).

Menunggu truk yg akan mengangkut hasil panen singkong. 1500/kg.

Lokasi Pertemuan #2: Dapoer Budaya Banjarasri

Acara dimulai pukul 13.50 di Dapoer Budaya Banjarasri. Seperangkat gamelan berada di satu sudut rumah yg disepakati menjadi ruang publik. Secara rutin kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak akan berlatih memainkan gending jawa.

Mbak Wartini membuka acara, disusul Pak Yusup. Memberi kesempatan kepada Mas Mika untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan singkat soal BPJS Ketenagakerjaan. Pelatihan dan diskusi pengolahan produk pertanian dipandu Najib dan Fahmi dilakukan sampai pukul 4 sore.

Pelatihan Tepung Lokal di Dapoer Budaya Banjarasri Kalibawang

Peserta tercatat 41 orang. Pak Carik berkesempatan hadir dan mengikuti perkenalan yg disampaikan Mas Mika. Diskusi awal soal asuransi sempat terjadi.

Pelatihan berikutnya tgl 24 Juli pukul 7 malam, adalah sesuai kelompok minat. Sejauh ini terbentuk tiga kelompok, yaitu pengolahan tepung singkong mokaf, kelompok pengolahan air kelapa nata de coco dan pengolahan bubuk coklat. Masing-masing peserta anggota kelompok akan meyiapkan bahan, merajang, merendam bahan untuk dibawa pada hari pelatihan.

Biji bunga telang untuk ditanam di pekarangan. Ayo berkebun.

Usai pertemuan, ibu-ibu menyempatkan membawa pulang biji bunga telang yg kami sediakan. Masyarakat memang sudah memanfaatkan pekarangan dengan berbagai tanaman TOGA dan sayuran. Di halaman Dapoer Budaya dipenuhi tanaman cabe yg ditanam di dalam polibag.

Geblek, growol dan tempe benguk, siapa yg tidak mengenal jajanan khas Kulonprogo. Aneka olahan dari singkong. Growol adalah hasil fermentasi yg untuk jaman itu saja sudah sangat futuristik, mengingat kandungan gula sederhana hasil fermentasi yg bagus untuk pencernaan tubuh kita.

Pertemuan di desa akan disuguhi teh hangat manis, bukan minuman plastik dalam kemasan yg sekali pakai langsung buang. Sehat untuk tubuh dan lingkungan. Terimakasih ibus….

Pete! Bulan Juli ini adalah musim panen pete di Pegunungan Menoreh.

Kontak Yusup Martani (0813.1780.5953) untuk pemesanan produk masyarakat, kunjungan ke Dapoer Budaya Banjarasri, dan pengaturan pelatihan aneka pangan lokal sehat untuk kelompok masyarakat.

Among Rasa Menoreh (AMR) Kulon Progo

Buka puasa bersama kawan Komunitas Menoreh, Sabtu, 17 Juni 2017. Sedianya buka bersama akan diadakan di Dapoer Budaya Menoreh Banjarasri, dialihkan ke kediamannya Mbak Erna di Dekso, Kalibawang, Kulon Progo.

Empat pemuda dari kelompok pertukangan Muda Taruna Makmur (MTM) Pagerharjo, empat orang dari Kaoem Telapak Jogja (KTJ) menjadi peserta pertemuan kali ini. Yusup Maguantara dari Martani Pangan Sehat menghantar catatan tentang Among Rasa Menoreh. Sebuah kajian sekaligus ajakan untuk kita semua agar mengkonsumsi produk sehat petani lokal. Bangga dengan produksi sendiri, mencari cara inovatif agar terus mengikuti perkembangan jaman, mengedukasi publik tentang pangan lokal sehat.

Hidangan pembuka kolak, kombucha bunga telang, geblek dan tempe benguk khas Kulon Progo, cookies tepung singkong momoza dan coklat Makasar. Mengkonsumsi produk kopi dari daerah Samigaluh, mengolah sendiri biji kopi untuk konsumsi sendiri. Meningkatkan nilai jual, lebih sehat.

Mengolah dan Menyajikan Kopi Menoreh untuk konsumsi harian kita. #digilingbukandisobek

Gagasan ARM (Among Rasa Menoreh)

Pertama

  • ARM: lengan untuk merangkul dan menggandeng
  • Among: membimbing, menjaga, menggembala
  • Rasa: ekpresi dari penggunaan indra tubuh, hati dan pikiran
  • Menoreh berasal dari kata dasar toreh. Menoreh memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga menoreh dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.
  • Menoreh adalah sebuah bukit yang membentang dari selatan ke utara. Perbukitan Menoreh juga memiliki fungsi sebagai batas wilayah antara Kasultanan Yogyakarta dengan Karesidenan Kedu. Dimana bagian dari Yogyakarta masuk wilayah administrasi pemerintahan Kabupaten Kulon Progo, sementara untuk wilayah Kedu ada dibawah naungan Kabupaten Purworejo serta Kabupaten Magelang.
Among Rasa Menoreh lengan untuk merangkul berbagai produk lokal Kawasan Pengunungan Menoreh.

Kedua

  • Banyak potensi SDA, hasil budidaya dan olahannya di Wilayah Pegunungan Menoreh: kayu rakyat, buah, padi, palawija, umbi-umbian, sayuran, kelapa, palawija, coklat, kopi, teh….tempat wisata alam dan religi…
  • Sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang pangan sendiri
  • Program bela-beli Kulon Progo mensiratkan adanya rasa tidak percaya diri, bangga dan menghargai hasil dan produk diri sendiri….. pernahkah warga Kulon Progo mencicipi gula semut? Padahal produk gula semut dari daerah ini sudah sampai diekspor ke Eropa dan Amerika.
Potensi SDA Pegunungan Menoreh; kayu rakyat, buah, padi, palawija, umbi-umbian, sayuran, kelapa, palawija, coklat, kopi, teh….tempat wisata alam dan religi.

Ketiga

ARM: wadah atau entitas bisnis yang akan menjadi lokomotif penggerak ekonomi Menoreh. Pada satu rangkaian kereta, meski berbeda kelas ekonomi, bisnis, VIP tetapi akan secara bersama mencapai tujuan.

  1. Tradisional non profit (LSM) dengan aktivitas income generating
  2. Perusahaan tradisiobal profit perusahaan dengan CSR

ARM berada diantara 1 dan 2…. : keterlibatan, inovasi, aktivitas ekonomi, perubahan sosial.

Inovasi tiada henti untuk mengolah produk pertanian lokal sehat.

Apa yang diperlukan: inovasi sosial yang mampu mengubah struktur relasi sosial dan hadirnya individu bervisi, kreatif, berjiwa wirausaha, dan ber-etika di belakang gagasan inovatif tersebut. Individu/kumpulan individu harus terlibat dalam proses inovasi, adaptasi, pembelajaran yang terus menerus bertindak tanpa menghiraukan berbagai hambatan atau keterbatasan yang dihadapinya dan memiliki akuntabilitas dalam mempertanggungjawabkan hasil yang dicapainya.

Kopi Menoreh. Digiling bukan disobek. Mengolah kopi produksi kebun, menjual produk jadi bukan produk mentah akan memberi nilai tambah ekonomi petani dan artisan lokal.
  • Inovasi diperlukan karena perasaan tidak puas terhadap kondisi dan situasi yang ada serta adanya peluang untuk memperbaiki keadaan yang ada,
  • inovasi harus dijadikan sebagai suatu alat dan bukan suatu tujuan, tujuan dari suatu inovasi adalah perubahan atau perbaikan dari kondisi yang ada menjadi lebih baik
  • Inovasi sosial terkait dengan peningkatan hubungan sosial dan peningkatan kesejahteraan
  • Apa yang diperlukan: rumah sebagai warung, outlet, training, internet dan computer, lahan pekarangan, lahan kebun
  • Bisnis/usaha: sandang-pangan-papan….low carbon footprint
  • Menciptakan kesempatan kerja
  • Melakukan inovasi dan kreasi baru terhadap produksi barang ataupun jasa yang dibutuhkan masyarakat.
  • Membangun nilai saling pengertian (shared value), kepercayaan (trust) dan budaya kerjasama (a culture of cooperation)

Dengan berasumsi kita punya niat baik, kitalah yang akan menjadi elit ekonomi desa.

Beras putih dicampur sedikit beras hitam akan menghasilkan nasi ungu.

Merancang Model Bisnis

Osterwalder & Pigneur (2010) mendefinisikan model bisnis sebagai gambaran dasar pemikiran tentang bagaimana organisasi menciptakan dan memberikan nilai. Model bisnis memperlihatkan cara berpikir tentang bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan uang. Model bisnis dan bentuk organisasi sangat berpengaruh terhadap kemampuan perusahaan untuk tumbuh dan berkembang secara berkelanjutan. Model bisnis diyakini dapat dijelaskan dengan sangat baik melalui sembilan blok bangunan dasar yang memperlihatkan cara berpikir tentang bagaimana sebuah perusahaan menghasilkan uang.

Gambar 1. Model Bisnis Kanvas

Kesembilan blok tersebut adalah:

  1. Customer Segments (Segmen Pelanggan). Menggambarkan sekelompok orang atau organisasi berbeda yang ingin dijangkau atau dilayani oleh perusahaan.
  2. Value Propositions (Proporsi Nilai). Menggambarkan gabungan antara produk dan layanan yang menciptakan nilai untuk pelanggan spesifik.
  3. Channels (Saluran). Menggambarkan bagaimana sebuah perusahaan berkomunikasi dengan segmen pelanggannya dan menjangkau mereka untuk memberikan proporsi nilai.
  4. Customer Relationships (Hubungan Pelanggan). Menggambarkan berbagai jenis hubungan yang dibangun perusahaan bersama segmen pelanggan yang spesifik.
  5. Revenue Streams (Arus Pendapatan). Menggambarkan uang tunai yang diahasilkan perusahaan dari masing-masing segmen pelanggan.
  6. Key Resources (Sumber Daya Utama). Menggambarkan aset-aset terpenting yang diperlukan agar sebuah model bisnis dapat berfungsi.
  7. Key Activities (Aktivitas Kunci). Menggambarkan hal-hal terpenting yang harus dilakukan agar model bisnisnya dapat bekerja.
  8. Key Partnerships (Kemitraan Utama). Menggambarkan jaringan pemasok dan mitra yang membuat model bisnis dapat bekerja
  9. Cost Structure (Struktur Biaya). Menggambarkan semua biaya yang dikeluarkan untuk mengoperasikan model bisnis.

(Osterwalder & Pigneur, 2010) memvisualisasikan kesembilan blok bangunan model bisnis menjadi Kanvas Model Bisnis (KMB). KMB adalah bahasa yang sama untuk memvisualisasikan, menilai, dan mengubah model bisnis (Gambar 1).

Purnomo dkk di Pawon Martani Convention Centre

Pawon atau tungku kayu bakar menjadi elemen penting di sebuah rumah jawa khas limasan. Ukuran dapur yg relatif luas memungkinkan orang untuk duduk ngobrol santai. Dekat dengan makanan dan minuman membuat diskusi menjadi lebih asik.

Purnomo, Dede, Fadli, Qoyum adalah mahasiswa Teknologi Pangan dari Universitas Mercu Buana. Mereka secara rutin datang ke Limasan Martani untuk berbagai aktivitas. Memadukan ciri khas anak muda yg kreatif dan latar belakang pendidikan pengolahan pangan, menjadikan setiap pertemuan asik untuk diceritakan.

Menjadi jembatan antara kebutuhan publik atas pangan sehat dan petani produsen yg membutuhkan bantuan untuk mengolah hasil panennya agar mendapatkan nilai lebih.

Sharing Fahima Dengan Ibu-ibu Dusun Tulung

Bulan Februari ini kami kedatangan tamu Fahima dari Pare, Kediri. Kami sempatkan mengundang ibu-ibu Dusun Tulung untuk ngobrol malam soal pangan lokal pangan sehat dan potensi di desanya. Obrolan soal apa saja obat batuk, obat pegel alami (dan lain-lain khasiat herbal tanaman obat yg bisa ditanam di halaman) untuk konsumsi keluarga menjadi topik bahasan.
Penekanannya pada pemenuhan kebutuhan sendiri dahulu. Bukan melulu untuk dijual. Kita ingin melihat ibu-ibu dan keluarganya sejahtera dengan tanaman herbal yg ada. Karakteristik tanaman herbal adalah mencegah bukan fokus mengobati. Takaran zat yg dibutuhkan untuk setiap penyakit membutuhkan keahlian tersendiri.
Bu Solih menyajikan bakso kelor dan bubur kelor untuk kudapan obrolan kami. Kelor yg banyak tumbuh di kebun atau pagar tanaman, dibiarkan begitu saja. Padahal kelor punya banyak kandungan vitamin tinggi.
Terimakasih sharingnya Fahima. Terimakasih ibu-ibu sekalian untuk datang berbagi pengalaman. Belajar bersama di desa.

 

Kunjungan Belajar Pendeta Wawuk KW

Pdt Wawuk Kristian Wijaya, PMK KPS, GKJW Jemaat Donomulyo Malang. Mas Wawuk adalah seorang kawan lama dari Bogor (Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian angkatan 35), datang ke Limasan Martani bersama dua kawannya.

Studi banding ke Martani Tulung Kalasan. Penguatan ekonomi dan kesehatan umat melalui ketahanan pangan lokal.  Pemberdayaan Ekonomi Warga (PEW) adalah salah satu program unggulan GKJW (http://gkjw.or.id/essay/pew-gkjw-masihkan-bermasa-depan/)

11 Juni 2017. Pak Ruben berada di satu daerah dengan kawan Fahima, seorang kawan yg kreatif, memproduksi serbuk kelor salah-satunya.

13 Juni 2017, dalam satu kesempatan perjalanan ke daerah Pare, Kediri, kami sempat mampir ke rumahnya Pak Ruben Adi di Pare, Kediri dan Bapak Pdt GKJW Wates Kediri.

Kami melihat kolam lele di halaman belakang rumah.

n
j
 
Hidup sehat adalah kebutuhan semua kita.

Ideas Night IFI LIP Jogja

Seorang moderator mengatur jalannya diskusi terbuka.

Mengisi waktu saat pembicara pertama, moto-moto audiens yg datang, terus bertambah semakin malam.

Sebelum acara diskusi, menghadiri pameran photo seniman Prancis. Menampilkan photo-photo bertema feminsme.
Seorang artis lain, mengumpulkan potongan koran tempo dulu terkait obat kuat.

Joglo Tani Pak Suprapto

Mampirlah saat ke Jogja, ke Joglo Tani di Dusun Mandungan I, Margoluwih, Seyegan, Sleman. Ada angkringan bentuk rumah limasan jawa yg dimodifikasi, terbuka dengan meja kursi kayu santai. Wifi kenceng tersedia. Angkringan kekinian lah.

PETANI di Martani

Tamu kami kali ini adalah Mas Ketel (begitu sebutan ngetopnya). Beliau dari Persaudaraan Mitra Tani Nelayan Indonesia (PETANI). Mas Najib dan Mas Ketel mampir ke Limasan Martani, berbagi cerita tentang pengolahan lahan rendah inputan. Kedaulatan Pangan Berbasis Kearifan Lokal dan Agribisnis Kerakyatan kelak tercapai.

https://plus.google.com/communities/114453486366165147614/stream/7fee8171-7e7c-4d11-aa9f-92cff2ea87d3

l

n

m

 

 

Kuda pun Minum Jamu

Omah jaran / kuda disebut gedhongan. Ada juga yg bilang kestalan. Basa Jawa memang punya banyak kosa kata dan dialek tamabahan di setiap daerah yg beda-beda. Menunjukkan kekayaan budaya daerahnya.

Kestalan yg sama …..

Kesalahan yg sama haha bahasa plesetan anak gahul

Cerita soal kuda. Di belakang Limasan Martani Tulung, pas saat buka pintu pawon dapur, ada kestalan ini. Sebagian ternak sapi sudah pindah ke kandang bersama dekat Kali Opak sebrang Jalan Pakem – Kalasan sana. Kandang kuda ini masih bertahan di sini entah bagaimana ceritanya – memberikan pemandangan menenangkan kestalan serasa di dalam lukisan, menikmati suara wrrrrrkkkkkkk dengusan sang kuda di malam hari, semilir taik kuda juga hihihi melengkapi suasana perdesaan.

Kami menggunakan taik kuda untuk campuran media tanaman di polibag, cabe, tomat, rosela, bunga telang, kenikir, bunga wijayakusuma, kacang koro, belimbing wuluh, daun pandan, daun sereh, lemongrass, papaya, tumbuh baik – pohon cabe agak kerdil kurang matahari kayaknya. Setelah dipindah, bisa lah untuk buat sambal harian.
Sebulan sekali, sang kuda diberi ramuan jamu telur ayam kampung. Dua buah telur, dipecahkan masukkan ke sepotong bambu menjadi seperti gelas, siap dimasukkan ke mulut kuda. Tidak pas sudut pengambilan potonya. Yang menarik saat mulut sang kuda diikat bagian atas rahangnya, si ibu bertugas menarik memberi kesempatan gelas bambu berisi telur bisa dimasukkan. Glek geek glek. Sambil si ibu menyiapkan dua telur berikutnya, sebuah piring plastik ditandahin di bawah mulut kuda agar tetesan sisa telur masih bisa dimasukkan lagi dicampur batch berikutnya.
Dimana letak organik atau kaitan dengan pangan sehatnya nih cerita kestalan? Potongan cerita di perdukuhan Tulung Kalasan tempat kami tinggal saat ini. Melengkapi sebuah cerita kehidupan di desa tempat padi, sayuran, sapi diproduksi. Bagian dari mengenal desa secara utuh.
Ayo main ke desa. Mengenali petani, peternak, artisan lokal.