Pelatihan Pengolahan Tepung Lokal Produk Pertanian Kulonprogo

Pelatihan Pembuatan Tepung beririsan dengan kegiatan Pengenalan BPJS Ketenagakerjaan (dulunya Jamsostek). Among Rasa Menoreh (ARM) menjadi host kegiatan ini, sedangkah pelatihan dilaksanakan oleh Fahmi dan Najib dari Food for Nation (FFN). Pelatihan tahap awal dilaksanakan di Desa Banjararum dan Banjarasri, Kalibawang, Kulonprogo, Minggu 16 Juli 17.

ARM melihat banyaknya produk petani lokal yg berlimbah dan dihargai murah, terutama saat musim panen. Pengolahan bahan mentah menjadi bahan setengah jadi akan memberi nilai ekonomi yg bisa dirasakan langsung oleh masyarakat. ARM akan membantu memasarkan produk masyarakat yg diproduksi dengan cara baik dan bahan dasar produk pertanian setempat yg berlimpah.

Lokasi Pertemuan #1: Rumah Bu Erna, Banjararum.

Acara dimulai pukul 10.10. Peserta yg hadir 15 orang ibu-ibu dan remaja.

Dimulai dengan pembukaan oleh Mbak Erna. Yusup, menjelaskan tentang tujuan kegiatan dan perkenalan setiap peserta yg hadir. Fahmi dan Najib dari FFN melanjutkan dengan presentasi cara pembuatan aneka tepung dari umbi lokal dan diskusi seputaran pangan sehat dan pengolahannya.

Diskusi bergulir bebas seputaran harga umbi dan tepung lokal, potensi beberapa umbi yg ternyata punya nilai ekonomi tinggi seperti porang (atau iles-iles) yg saat ini belum diolah. Ibu-ibu bersemangat setelah ditunjukkan harga sebuah umbi suweg di Tokopedia, 350 ribu. ‘Saya jual 100 ribu, ibu mau beli?’, komentar seorang peserta.

Seorang ibu yg sering membantu kakaknya membuat slondok, berbagi pengalaman soal aneka rasa slondok. Penambahan bawang menjadikan slondok produksinya berbeda. Selalu habis tidak ada stok karena memenuhi pesanan orang yg tinggal di Jakarta, tambahnya.

Seorang ibu pembuat jamu kunyit tertarik dengan ide mengemas aneka jamu dalam bentuk kering, instan siap seduh. ‘Teh celup kunyit jahe, wah saya mau coba itu’.

Beras sehat untuk semua.

Mas Mika diminta ibu-ibu untuk memperkenalkan diri lebih jauh terkait BPJS Ketenagakerjaan. Peserta antusias mendengarkan, beberapa bahkan bertanya bagaimana cara mendaftarkan diri.

Nasi biru bunga telang semur jengkol.

Mencicipi nasi kucing biru bunga telang dengan lauk sayur gori buatan Bu Solih dari Warung Martani Tulung Kalasan. Serabi hijau serbuk katuk dan serbuk kelor juga dihidangkan. Aneka hidangan berbahan dasar lokal ini diharapkan menjadi inspirasi peserta tentang hasil akhir aneka tepung yg nantinya akan mereka produksi.

Pertemuan berikutnya rencananya akan dilaksanakan tgl 24 Juli pukul 3 sore di rumah Mbak Erna. Praktek pembuatan tepung suweg dan teh celup jamu kunyit. Peserta adalah kelompok yg ini ditambah 20 orang dari PKH – Program Keluarga Harapan Banjararum (menunggu konfirmasi).

Menunggu truk yg akan mengangkut hasil panen singkong. 1500/kg.

Lokasi Pertemuan #2: Dapoer Budaya Banjarasri

Acara dimulai pukul 13.50 di Dapoer Budaya Banjarasri. Seperangkat gamelan berada di satu sudut rumah yg disepakati menjadi ruang publik. Secara rutin kelompok ibu-ibu dan bapak-bapak akan berlatih memainkan gending jawa.

Mbak Wartini membuka acara, disusul Pak Yusup. Memberi kesempatan kepada Mas Mika untuk memperkenalkan diri dan menjelaskan singkat soal BPJS Ketenagakerjaan. Pelatihan dan diskusi pengolahan produk pertanian dipandu Najib dan Fahmi dilakukan sampai pukul 4 sore.

Pelatihan Tepung Lokal di Dapoer Budaya Banjarasri Kalibawang

Peserta tercatat 41 orang. Pak Carik berkesempatan hadir dan mengikuti perkenalan yg disampaikan Mas Mika. Diskusi awal soal asuransi sempat terjadi.

Pelatihan berikutnya tgl 24 Juli pukul 7 malam, adalah sesuai kelompok minat. Sejauh ini terbentuk tiga kelompok, yaitu pengolahan tepung singkong mokaf, kelompok pengolahan air kelapa nata de coco dan pengolahan bubuk coklat. Masing-masing peserta anggota kelompok akan meyiapkan bahan, merajang, merendam bahan untuk dibawa pada hari pelatihan.

Biji bunga telang untuk ditanam di pekarangan. Ayo berkebun.

Usai pertemuan, ibu-ibu menyempatkan membawa pulang biji bunga telang yg kami sediakan. Masyarakat memang sudah memanfaatkan pekarangan dengan berbagai tanaman TOGA dan sayuran. Di halaman Dapoer Budaya dipenuhi tanaman cabe yg ditanam di dalam polibag.

Geblek, growol dan tempe benguk, siapa yg tidak mengenal jajanan khas Kulonprogo. Aneka olahan dari singkong. Growol adalah hasil fermentasi yg untuk jaman itu saja sudah sangat futuristik, mengingat kandungan gula sederhana hasil fermentasi yg bagus untuk pencernaan tubuh kita.

Pertemuan di desa akan disuguhi teh hangat manis, bukan minuman plastik dalam kemasan yg sekali pakai langsung buang. Sehat untuk tubuh dan lingkungan. Terimakasih ibus….

Pete! Bulan Juli ini adalah musim panen pete di Pegunungan Menoreh.

Kontak Yusup Martani (0813.1780.5953) untuk pemesanan produk masyarakat, kunjungan ke Dapoer Budaya Banjarasri, dan pengaturan pelatihan aneka pangan lokal sehat untuk kelompok masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *