Beras Hitam Beras Lokal Rasa Bangsawan

Deskripsi  Beras Hitam

Penduduk menyebut beras hitam dengan nama berbeda-beda. Di China, beras hitam disebut Beras Terlarang, karena di masa kekaisaran Cina hanya boleh dikonsumsi para bangsawan dan rakyat dilarang memakannya. Di Solo, beras ini dikenal dengan nama Beras Wulung, di Cibeusi, Subang, Jawa Barat beras Gadog, di Sleman beras Cempo Ireng atau beras Jlitheng, dan di Bantul beras Melik.

Beras hitam mengandung banyak aleuron dan endospermia memproduksi antosianin sehingga warna beras menjadi ungu pekat mendekati hitam. Zhimin Xu, staf pengajar Ilmu Pangan di Louisiana State University of Agricultural Center di Baton Rouge, Louisiana melaporkan bahwa selain antioksidan, antosianin, beras hitam juga mengandung kadar gula yang lebih sedikit, lebih banyak serat dan vitamin E. Disamping rasanya yang enak, pulen, dan wangi, beras hitam juga memiliki keunggulan lain, misalnya manfaatnya bagi kesehatan.

BH CI
Teknik Budidaya

 a.  Pembuatan Persemaian

  • Lahan persemaian merupakan lahan yang sebelumnya diberakan satu musim tanam
  • Lahan  diolah  dengan  dibajak  dua  kali,  dan  digaru  satu  kali,  sehingga tercapai tingkat pelumpuran yang baik
  • Lima hari sebelum pengolahan tanah terakhir dilakukan aplikasi herbisida pra tumbuh sebagai upaya sanitasi benih-benih voluntir
  • Pada saat  pengolahan  lahan terakhir  dibuat  bedengan persemaian  dengan tinggi 5-10 cm, lebar 100-120 cm, dengan panjang sesuai dengan kebutuhan
  • Benih dari masing-masing malai ditebar pada petakan yang terpisah dengan jarak antar petakan 40 cm. Dapat juga disebar terpisah pada keranjang/besek dan  tiap  malai  disebar  pada  keranjang  yang  terpisah  serta  diletakkan  di tempat yang aman.
  • Persemaian  dipupuk  dengan  urea,  SP  36  dan  KCl  dengan  dosis  masing- masing 15 gram/m2 , pemberian air irigasi dan pengendalian hama atau atau penyakit tanaman dilakukan secara optimal

 b.   Pengolahan tanah

Lahan untuk pertanaman adalah lahan yang sebelumnya diberakan satu musim tanam. Lahan diolah sebaik mungkin dengan tahapan pekerjaan sebagai berikut :

  • Pengolahan tanah I, lahan diolah dengan bajak singkal satu kali, setelah itu selanjutnya  digenangi  air  selama  dua  hari,  kemudian  dikeringkan  selama tujuh hari
  • Pengolahan II, lahan hasil pengolahan tanah I dibajak ulang dengan rotary, untuk selanjutnya digenangi air selama dua hari, dan kemudian dikeringkan selama tujuh hari
  • Pengolahan tanah III, lahan hasil pengolahan tanah II digaru, diratakan dan dibersihkan dari sisa-sisa tanaman yang ada(ratun dan gulma) selanjutnya pada saat 5 hari sebelum tanam dilakukan aplikasi herbisida pra tumbuh
  • Satu   hari   sebelum   tanam,   lahan   dikeringkan   untuk   mempermudah pembuatan jalur tanam (caplak).

 c.   Tanam

  • Sebelum pelaksanaan tanam, disusun bagan/tata letak bahan tanaman pada petak pengujian
  • Bahan tanaman adalah bibit sehat yang  telah berumur  30-40 hari setelah sebar, yang berasal dari persemaian yang telah disiapkan
  • Bibit yang berasal dari satu varietas/galur ditanam 1 bibit per lubang tanam, dengan jarak 25 x 40 cm
  • Sisa  bibit  dari  masing-masing  varietas  disimpan  sebagai  dederan,  untuk digunakan sebagai bahan tanaman pada saat penyulaman
  • Petak percobaan diberi label nomor  petak dan nama  varietas  pada setiap ujung baris pertama dari setiap varietaas
  • Penyulaman dilakukan 20-30 hari setelah tanam dengan menggunakan bibit  sehat yang berasal dari dederan masing-masing varietas
  • Setelah penyulaman selesai dilakukan, bibit yang ada di dederan dibuang , agar tidak menjadi sumber inokulum hama dan penyakit tanaman

 d.   Pemeliharaan Tanaman

  • Pada saat tanaman berumur 2-3 hari setelah tanam (hst), kondisi air tetap dipertahankan  dalam  keadaan  macak-macak.  Setelah  itu  sesuai  dengan tingkat   pertumbuhan   tanaman,   genangan   air   irigasi   secara   bertahap diusahakan mencapai 5 – 15 cm
  • Pemupukan dasar dilakukan segera   setelah tanam dengan dosis 100 kg/ha Urea, 100 kg/ha SP 36  dan 100 kg/ha KCl. Bersamaan dengan pemupukan dasar  tersebut  diaplikasikan  pula  insektisida  butiran  carbofuran  dengan dosis 18 kg/ha
  • Penyiangan I dilakukan secara manual dengan lalandak pada saat tanaman mencapai fase anakan maksimum
  • Setelah  penyiangan  I  selesai  dilakukan,  aplikasi  pupuk  susulan  pertama diaplikasikan dengan dosis 100kg/ha
  • Pada  saat  tanaman  mencapai  fase  primordia,  dilakukan  penyiangan  II dengan lalandak secara manual
  • Setelah  penyiangan  II  selesai  dilakukan  dilanjutkan  dengan  pemupukan susulan kedua dengan dosis 100 kg/ha Urea dan 50 kg/ha KCl
  • Pengendalian  hama  dan  penyakit  dilakukan  secara  intensif  dengan  tetap memperhatikan prinsip-prinsip pengendalian hama terpadu

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *